PENGARUH WAKTU APLIKASI TRICHODERMA HARZIANUM TERHADAP PENYAKIT LAYU JAMUR PADA CABAI

Oleh : Kardi Raharjo

PENDAHULUAN

Penyakit layu jamur yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum Schlecht. merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman cabai. Menurut Hutagalung (1984 cit. Semangun 1989) lebih kurang 8 % dari tanaman cabai di pulau Jawa mati karena penyakit ini.

Jamur F. oxysporum penyebab layu pada tanaman cabai merupakan patogen tular tanah yang menyerang pembuluh xylem tanaman. Karena patogen berada dalam jaringan pembuluh maka penyakit ini sulit dikendalikan dengan fungisida.

Penggunaan jamur Trichoderma harzianum mempunyai prospek yang baik untuk pengendalian penyakit layu jamur pada cabai. Banyak peneliti dan praktisi yang melaporkan bahwa T. harzianum efektif untuk mengendalikan F. oxysporum yang menyerang cabai maupun tanaman lain (Wells, 1986; Sumardiyono, 2001; Susetyohari et al., 2001; Sundheim dan Tronsmo, 1986; Sulistyorini et al.,1997; Nurkhasanah, 1999; Mehrotra et al., 1986; Kotin dan Finkler, 1993; Harman dan Hayes,1993). T. harzianum dapat menekan perkembangan penyakit lewat mekanisme antibiosis, kompetisi, dan parasitisme serta dapat berperanan sebagai elisitor (elicitor) dalam mekanisme ketahanan terimbas (induced resistence).

Waktu aplikasi adalah salah satu aspek penting yang menentukan efektifitas dan efisiensi pengendalian penyakit layu jamur pada cabai menggunakan T. harzianum. Untuk itu, Laboratorium PHPTPH Wilayah Kedu bekerja sama dengan Susmiyati Jiwaningrum, mahasiswa Fakultas Pertanian UNWAMA telah melakukan kajian untuk mengetahui pengaruh waktu aplikasi tersebut.

BAHAN DAN METODE

Penelitian  dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium PHPTPH  Wilayah Kedu, di Temanggung, Jawa Tengah, dengan ketinggian tempat 430 m dpl. Waktu berlangsungnya penelitian pada bulan Oktober 2001 sampai dengan Januari 2002.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini: biakan murni jamur    Tricoderma harzianum, isolat jamur Fusarium oxysporum, benih cabe varietas Hot Chili, tanah steril,pupuk urea, KCL, dan SP-36, Polybag.

Alat yang digunakan: Inkas, haemositometer, petridis, pengaduk gelas, gelas ukur, erlenmeyer, tabung reaksi, pipet, gelas obyek, gelas penutup, lampu sepiritus, pinset, jarum oze, mikroskop binokuler, kertas saring, kapas, corong gelas, timbangan.

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) dengan lima perlakuan yang diulang tiga kali.

T0  = Kontrol

T1 = Aplikasi T. harzianum pada 5 hari sebelum tanam

T2  = Aplikasi T. harzianum  bersamaan dengan waktu tanam

T3 = Aplikasi T. harzianum pada 5 hari setelah tanam

T4 = Aplikasi T. harzianum pada 15 hari setelah tanam

Setiap tanaman diaplikasi dengan suspensi T. harzianum konsentrasi 108 konidia/ml volume 100 ml dengan cara menyiramkan pada media tanam dalam polibag.  Setiap unit perlakuan terdiri dari 10 tanaman.

Inokulasi patogen F. oxysporum dilakukan pada 10 hari sebelum tanam dengan konsentrasi 105 konidia/ml  volume 50 ml dengan cara menyiramkannya pada media tanam kemudian diaduk merata.

Pengamatan dilakukan tiap minggu sekali pada tanaman umur satu sampai dengan sembilan minggu. Parameter yang diamati adalah masa inkubasi dan intensitas penyakit.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Masa inkubasi penyakit layu

Tabel 1. Rata-rata masa inkubasi penyakit layu F. oxysporum pada tanaman cabai yang diinokulasikan  dengan jamur T. harzianum

Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada  uji BNT taraf 5 %.

Dari data pada tabel 1 menunjukkan bahwa semakin awal T. harzianum diaplikasikan akan menyebabkan masa inkubasi penyakit semakin panjang. Hal ini menunjukkan bahwa T. harzianum yang diperlakukan lebih awal dapat menekan laju infeksi (infection rate) lebih kuat. Fenomena ini diduga disebabkan inokulum primer T. harzianum telah membentuk inokulum skunder sehingga kemampuan menekan patogen lewat mekanisme antibiosis, parisitisme, dan kompetisi menjadi semakin kuat.

Selisih masa inkubasi pada perlakuan kontrol dengan perlakuan 5 hari sebelum tanam mencapai 26,67 hari, sedangkan selisih perlakuan kontrol dengan perlakuan 5 hari setelah tanam hanya 18,67 hari. Dengan demikian korelasi antara variabel waktu aplikasi dengan masa inkubasi tidak bersifat linier, dimana faktor waktu sebelum tanam (sebelum terjadi infeksi) pengaruhnya lebih kuat dibandingkan dengan faktor waktu sesudah tanam (sesudah terjadi infeksi) dalam hal menekan laju infeksi. Hal ini diduga karena timbulnya ketahanan terimbas (induced resistance) pada tanaman cabai oleh T. harzianum yang berperanan sebagai elisitor (elicitor). Seperti telah diketahui bahwa pengimbasan oleh elisitor dapat terjadi pada tanaman yang belum terinfeksi oleh patogen ( Lyon dan Newton, 1999; Tuzun dan Bent, 1999; Constabel, 1999).

Intensitas serangan

Tabel 2. Rata-rata Intensitas serangan penyakit layu F. oxysporum pada tanaman cabai yang diaplikasi dengan T. harzianum

Keterangan  : Angka yang diikuti huruf yang sama pada masing-masing kolom menunjukkan tidak beda nyata menurut uji uji BNT taraf 5 %.

Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa T. harzianum  yang diaplikasikan semakin awal memberikan hasil pengendalian yang semakin tinggi, yang ditunjukkan oleh intensitas serangan yang semakin rendah. Korelasi antara waktu aplikasi dengan intensitas serangan juga tidak bersifat linier, sama seperti yang terjadi pada masa inkubasi. Diduga mekanismenya juga sama dengan yang terjadi pada parameter masa inkubasi.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat  diambil kesimpulan :

  1. Jamur T. harzianum dapat menghambat laju perkembangan penyakit layu pada cabai yang disebabkan oleh jamur  F. oxysporum melalui mekanisme memperpanjang masa inkubasi dan menurunkan intensitas serangan.
  2. Waktu aplikasi T. harzianum yang paling efektif adalah saat sebelum terjadi infeksi oleh patogen.

DAFTAR PUSTAKA

Constabel, C. P. 1999. A Survey of Herbivore-Inducible Defensive Proteins and Phytochemicals. In A. A. Agrawal, S. Tuzun, and E. Bent (Eds.). Induced Plant Defenses Against Pathogens and Herbivores. APS Press. St. Paul, Minnesota. 137166 pp.

Harman, G. E. and C. K. Hayes. 1993. The Genetic Nature and Biocontrol Ability of Progeny From Protoplast Fusion in Trichoderma. Dalam I. Chet (Ed.). Biotechnology in Plant Disease Control. Dep. Of Plant Pathology and Mycrobiology, The Hebrew Univ. of Jerusalem, Faculty of Agriculture, Rehovot, Israel. 237-255 pp.

Kotin, Y., I. Ginzberg, and A. Finkler. 1993. Fungal “killer” Toxin As Potential Agents For Biocontrol. In  I. Chet (Ed.). Biotechnology in Plant Diseases Control. Wiley-Liss. John Wiley & Sons, Inc. New York. 257-274 pp.

Lyon, G. D.  dan A. C. Newton. 1999. Implementation of Elicitor Mediated Induced Resistence in Agriculture. In A. A. Agrawal, S. Tuzun, and E. Bent (Eds.). Induced Plant Defenses Against Pathogens and Herbivores. APS Press. St. Paul, Minnesota. 299-318 pp.

Mehrotra, R. S., K. R. Aneja, A. K. Gupta, and A. Aggarwal. 1986. Fungi, As Agents of Biological Control. Dalam K. G. Mukerji and K. L. Garg. Biocontrol of Plant Disease. Vol. 1. CRC Press. Boca Raton, Florida. 37-52 pp.

Nurkhasanah. L. 1999. Kajian variasi Dosis Tricoderma harzianum dan Intensitas Penyinaran terhadap pertumbuhan Vanili dan Perkembangan Penyakit Busuk Batang Vanili.Skripsi Fakultas Pertanian UNWAMA. Yogyakarta.

Sulistyorini, Mulyadi dan Sulistyowati. 1997. Antagonisme jamur Trichoderma sp. dengan jamur Fusarium oxysporum pada tanaman pisang di rumah kaca. Risalah Kongres Nasional XII dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia.

Sumardiyono, C. 2001. Penyakit Layu Fusarium Pisang dan Cara Pengendaliannya. Apresiasi Pengendalian OPT dan Penyakit Layu Pisang. Tanggal 21 Juni 2001 di Bantul, Yogyakarta.

Sundheim, L. and Tronsmo, A. 1986. Hyperparasites in  Biological Control. In K. G. Mukerji and K. L. Garg. Biocontrol of Plant Disease Vol. 1. CRC Press. Inc. Boca Raton, Florida. 53-69 pp.

Susetyohari, Nasikin, dan Yuliastuti. 2001. OPT Utama Tanaman Pisang dan Hasil Kajian Pengendaliannya di Jawa Timur. Apresiasi Pengendalian OPT dan Penyakit Layu Pisang. Tanggal 21 Juni 2001 di Bantul, Yogyakarta.

Tuzun, S. dan E. Bent. 1999. The Role of Hydrolytic Enzyme in Multigenic and Microbially-Induced Resistence in Plants. In A. A. Agrawal, S. Tuzun, and E. Bent (Eds.). Induced Plant Defenses Against Pathogens and Herbivores. APS Press. St. Paul, Minnesota. 95-115 pp.

Wells, H. D. 1986. Trichoderma as A Biocontrol Agent. In K. G. Mukerji and K. L. Gang. CRC Press, Inc. Boca Raton, Florida. 71-82 p

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *