MENGENALI GEJALA PENYAKIT BUSUK BATANG PADA SEMANGKA DAN MELON SERTA CARA PENGENDALIANNYA?

style=”text-align: left;”>Oleh : Kardi Raharjo PENDAHULUAN Penyakit Busuk Batang (gummy stem blight) banyak dijumpai pada tanaman semangka dan melon serta tanaman anggota famili Cucurbitaceae yang lain seperti ketimun, labu, gambas dan lain-lain. Patogen penyakit ini dapat menyerang batang, daun, buah, dan bibit. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit utama pada semangka dan melon, terutama pada… Lanjutkan membaca MENGENALI GEJALA PENYAKIT BUSUK BATANG PADA SEMANGKA DAN MELON SERTA CARA PENGENDALIANNYA?

PENGARUH WAKTU APLIKASI TRICHODERMA HARZIANUM TERHADAP PENYAKIT LAYU JAMUR PADA CABAI

Oleh : Kardi Raharjo PENDAHULUAN Penyakit layu jamur yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum Schlecht. merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman cabai. Menurut Hutagalung (1984 cit. Semangun 1989) lebih kurang 8 % dari tanaman cabai di pulau Jawa mati karena penyakit ini. Jamur F. oxysporum penyebab layu pada tanaman cabai merupakan patogen tular tanah yang… Lanjutkan membaca

PENGARUH WAKTU APLIKASI TRICHODERMA HARZIANUM TERHADAP PENYAKIT LAYU JAMUR PADA CABAI

PENGENDALIAN KUMBANG DAUN KEDELAI MENGGUNAKAN JAMUR BEAUVERIA BASSIANA

PENDAHULUAN Kumbang daun kedelai (Phaedonia inclusa) adalah merupakan salah satu jenis OPT utama pada kedelai. Hama ini dapat menyerang tanaman sejak tanaman muncul diatas permukaan tanah sampai menjelang panen. Hampir seluruh bagian tanaman kedelai dapat terserang hama ini yakni meliputi daun, pucuk, ranting muda dan polong yang siap panen (Anonim, 1992) (Gambar 1). Gambar 1.… Lanjutkan membaca PENGENDALIAN KUMBANG DAUN KEDELAI MENGGUNAKAN JAMUR BEAUVERIA BASSIANA

 

Oleh: Kardi Raharjo

PENDAHULUAN

Penyakit Virus Kuning pada tanaman cabai (Capsicum annuum) disebabkan oleh  Begomovirus (Bean golden mosaic virus). Begomovirus termasuk kedalam famili Geminiviridae, yang merupakan kelompok terbesar penyebab penyakit pada tanaman (Gutierez, 202 cit. Trisno et al., 2010 ). Virus ini juga dapat menginfeksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum), tembakau (Nicotiana tabacum), kacang panjang (Vigna sinensis), dan gulma wedusan/babandotan (Ageratum conyzoides), dan lain-lain.

Akhir-akhir ini Penyakit Virus Kuning telah menyebar di berbagai daerah di Indonesia antara lain di di Provinsi DI. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Bali, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Bengkulu, Kalimantan Timur dan Gorontalo (Hartono, 2005; Trisno et al., 2010). Selain di Indonesia, patogen penyakit ini juga telah dilaporkan menyerang tanaman cabai, tomat, dan tanaman inang lain di negara-negara antara lain: Thailand, Malaysia, Vietnam, Banglades, India, Spanyol, Filipina, Mexico, USA, Costa Rica, Cuba, Dominican Republic, El Salvador, Guatemala, Jamaica, Nicaragua, Panama, Puerto Rico, Argentina, Brazil, Colombia, dan Venezuela.

PATOGEN PENYAKIT

Penyakit Virus Kuning  disebabkan oleh  Gemini virus,  Genus: Begomovirus famili: Geminiviridae, Group II. Gemini virus mempunyai karakter morfologi dengan dua partikel isometric dan mempunyai genom ss DNA (Gutierez, 202 cit. Trisno et al., 2010 ). Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm (Hartono, 2005). Karena kesamaan urutan nukleotida dalam genom yang mencapai 99%, maka dapat disimpulkan bahwa Begomovirus yang diisolasi dari tanaman tomat dan cabai dari Bogor, Jawa Barat dianggap virus yang sama (Tsai et. al., 2006).

Begomovirus mempunyai circular single-stranded DNA genomes. Variasi genom dan antigen virus banyak berkaitan dengan penyebaran geografi dan hanya  sedikit berkaitan dengan jenis tanaman inang. Variasi genom  yang dihasilkan dari mutasi ini diperkuat oleh akuisisi tambahan komponen DNA, pseudo rekombinasi dan rekombinasi intraspesifik dan interspesifik.  Rekombinasi, terutama interspesifik rekombinasi, tampaknya merupakan mekanisme kunci yang menghasilkan bentuk virus baru (Harrison and Robinson, 1999).

SERANGGA VEKTOR

Virus patogen penyakit virus kuning ditularkan dan disebarkan oleh serangga vektor Kutu Kebul / Kutu Putih  Bemisia tabaci (Gambar 1). Dalam tubuh serangga vektor, virus bersifat persisten selama 12 hari tapi virus tidak mengalami perbanyakan. Periode untuk akusisi (pengambilan) virus dari tanaman sakit 15-60 menit, periode inokulasi (penularan) penyakit 15-30 menit dan periode laten dalam tubuh serangga vektor selama 20-24 jam setelah akuisisi.

Gambar 1. Kutu Kebul B. tabaci : a. telur; b. nimfa dan imago; c. pupa

GEJALA PENYAKIT

Klorosis pada daun, tepi daun mengulung ke atas seperti mangkuk (cuping), daun keriting (curl) dan menguning, tanaman menjadi kerdil, bunga rontok (Gambar 2). Gejala penyakit pada tanaman lain bervariasi tergantung jenis tanamannya (Gambar 3-6).

Gambar 2. Gejala penyakit virus kuning pada cabai: a. sekitar 5 hari setelah inokulasi buatan; b. sekitar 10 hari setelah inokulasi buatan; c dan d gejala di lapangan. (Sumber: Laboratorium PHP Wilayah Kedu, Jawa Tengah. Tidak dipublikasikan).

Gambar 3. Gejala penyakit virus kuning pada tomat (Lycopersicum esculentum).

Gambar 4. Gejala penyakit virus kuning pada kacang panjang (Vigna sinensis).

Gambar 5. Gejala penyakit virus kuning pada tembakau (Nicotiana tabacum).

Gambar 6. Gejala penyakit virus kuning pada gulma babandotan (Ageratum conyzoides).

PENGENDALIAN PENYAKIT

Strategi pengendalian penyakit virus kuning pada cabai disusun dengan pendekatan konsepsi pengendalian hama penyakit terpadu (PHT). Komponen pengendalian yang dapat diterapkan adalah:

  1. Pemilihan lokasi yang jauh dari sumber serangan patogen penyakit.
  2. Pengolahan tanah yang baik.
  3. Sanitasi sumber inokulum pada gulma dan tanaman inang lain yang sakit.
  4. Pemupukan berimbang.
  5. Persemaian dalam sungkup kain kelambu.
  6. Penanaman tanaman tepi dengan tanaman jagung.
  7. Eradikasi tanaman sakit.
  8. Pengendalian serangga vektor kutu kebul (Bemisia tabaci).
  9. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang.
  1. Pemilihan lokasi yang jauh dari sumber serangan patogen penyakit

Berdasarkan teori epidemiologi penyakit tanaman, faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan populasi patogen dalam populasi tanaman inang adalah: sumber inokulum awal, virulensi patogen, tingkat kerentanan tanaman, agensia penyebar patogen, waktu, dan cuaca.

Untuk menghitung laju pertumbuhan populasi patogen (epidemi) suatu jenis penyakit tanaman yang mempunyai tipe bunga majemuk seperti penyakit virus kuning pada cabai, digunakan rumus:

  • Xt : populasi patogen (intensitas penyakit) pada waktu t
  • Xo : populasi patogen (intensitas penyakit) pada waktu awal (t=0)
  • e : bilangan alami =  7182818
  • r : laju (rate) penyakit
  • t : satuan waktu

Berdasarkan rumus tersebut di atas, maka tampak bahwa demikian besar peranan populasi patogen pada awal pertumbuhan tanaman, yang dinotasikan dengan X0, terhadap populasi patogen pada waktu t. Oleh karenanya langkah pemilihan lokasi yang jauh dari sumber serangan penyakit (sumber inokulum patogen) yang berupa tanaman cabai atau tanaman inang lain yang terserang penyakit, merupakan langkah yang sangat strategis dan efektif serta efisien.

  1. Pengolahan tanah yang baik

 Pengolahan tanah yang baik akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi optimal sehingga lebih tahan terhadap serangan patogen tanaman. Pengolahan tanah yang baik diharapkan dapat menghasilkan lahan yang gembur, halus, dan drainasenya lancar (selokan drainase sedalam 50 cm atau lebih) sehingga perakaran tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal karena tanah mudah ditembus akar, pupuk dapat terdistribusi secara merata, serta oksigen tersedia dalam jumlah cukup. Pengolahan tanah yang baik juga akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman.

Gambar 7. Pengolahan lahan: a. awal; b. lahan siap ditanami.

     3. Sanitasi sumber inokulum pada gulma dan tanaman inang           lain yang sakit

Walaupun lahan yang digunakan sudah dipilih jauh dari sumber serangan patogen penyakit, namun tidak tertutup kemungkinan masih dijumpai sumber serangan penyakit pada gulma seperti babandotan ((Ageratum conyzoides). Gulma-gulma yang ada harus dibersihkan dan dipendam dalam tanah sedalam paling tidak 30 cm atau dibakar. Langkah ini akan dapat mengurangi sumber inokulum patogen atau dengan kata lain akan mengurangi X0 pada rumus epidemiologi  tersebut pada sub bab 1.

     4. Pemupukan berimbang.

Untuk mencapai pertumbuhan tanaman cabai yang optimal sehingga tidak mudah terserang berbagai jenis hama dan penyebab penyakit, dianjurkan tanaman dipupuk dengan dengan jenis dan dosis sebagai berikut:

  • NPK (N:P:K =15:15:15) = 850 kg/ha atau sekitar 50 gram/tanaman
  • Pupuk daun = 10 liter/ha
  • Pupuk kandang = 17 ton/ha atau sekitar 1 kg/tanaman.

Pemupukan dengan pupuk majemuk (NPK) lebih efisien tenaga kerja, komposisi unsur N, P, dan K nya lebih homogen serta lambat pelarutan pupuknya sehingga dapat mengurangi kehilangan pupuk karena perkolasi/aliran air ke dalam tanah. Tambahan pupuk daun diperlukan untuk menjamin ketersediaan unsur mikro esensial.

Sebelum digunakan, pupuk kandang terlebih dahulu diaplikasi dengan perombak (dekomposer) menggunakan EM4 (Effective Microorganism 4) atau merk dagang yang lain, yang prosesnya selama sekitar 14 hari.

     5. Persemaian dalam sungkup kain kelambu

Untuk mencegah penularan virus, dianjurkan agar persemaian diberi sungkup yang terbuat dari kain kelambu dengan kerangka yg terbuat dari bambu (Gambar 8).

Penularan virus yang terjadi pada persemaian akan menyebabkan intensitas penyakit yang tinggi pada akhir masa pertumbuhan tanaman, karena tersedia waktu yang panjang untuk pertumbuhan dan perkembangan penyakit, sebagaimana yang telah penulis jelaskan tentang teori epidemiologi penyakit pada sub bab 1. Dalam rumus epidemiologi, aspek waktu dinotasikan dengan t (time) Oleh karenanya langkah ini mempunyai nilai yang sangat strategis dalam menopang keberhasilan pengendalian penyakit virus kuning.

Sebelum ditanam bibit diseleksi terlebih dahulu, bibit yang menunjukkan gejala penyakit virus kuning tidak ditanam dan segera dimusnahkan agar tidak menjadi sumber inokulum.

Gambar 8. Persemaian cabai dalam sungkup kain kelambu

     6. Penanaman tanaman tepi (border) dengan tanaman jagung

Untuk menghambat masuknya serangga vektor penyakit (B. tabaci) ke dalam pertanaman cabai, dianjurkan pada tepi lahan ditanami tanaman jagung sebanyak 3 + 2 baris. Tiga baris ditanam 2 minggu sebelum penanaman cabai dan dua baris ditanam 1 minggu sebelum penanaman cabai (Gambar 9).

Selain berfungsi sebagai penghalang (border) masuknya serangga ke dalam pertanaman cabai, tanaman jagung juga dapat membantu konservasi musuh alami B. tabaci , antara lain  Kumbang Coccinellid yang menyukai polen bunga jagung sebagai makanan alternatif (Gambar 10).

Gambar 9. Penanaman jagung sebagai tanaman tepi (border).

Gambar 10. Kumbang Coccinellid pada tanaman jagung

     7. Eradikasi tanaman sakit

Dalam teori epidemiologi, sumber inokulum patogen (sumber serangan) yang berasal dari tanaman sakit mempunyai peranan penting dalam perkembangan populasi patogen (perkembangan intensitas penyakit). Dalam rumus epidemiologi dinotasikan sebagai X0, sama seoerti halnya dengan gulma yang terserang patogen penyakit.

Bagian tanaman (cabang atau ranting) yang sakit dipotong dan dimusnahkan (dipendam dalam tanah atau dibakar). Bila keseluruhan individu tanaman sudah sakit (sistemik), tanaman dicabut dan dimusnahkan.

     8. Pengendalian serangga vektor kutu kebul (Bemisia tabaci)

Peranan vektor penyakit (B. tabaci) adalah meningkatkan r (rate) atau laju perkembangan intensitas penyakit. Pengendalian vektor dilakukan dengan cara:

  • Konservasi musuh alami, seperti penanaman jagung sebagai tanaman tepi.
  • Penyemprotan dengan suspensi jamur entomopatogen seperti Metarrhizium anisopliae konsentrasi spora/ml.
  • Aplikasi insektisida.

 9. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang

Untuk menekan siklus perkembangan penyakit dianjurkan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang penyakit virus kuning. Bila lahan memungkinkan sebaiknya pergiliran tanaman dengan tanaman padi. Cabai yang ditanam setelah tanaman padi akan dapat menekan penyakit virus kuning dan hama penyakit yang lain. Selain itu, kondisi agronomis lainnya juga akan optimal, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta produktivitasnya juga akan optimal.

 

 

Eksplorasi, Pengujian, dan Identifikasi Khamir Antagonis Terhadap Patogen Antraknos (Colletrotichum lagenarium) pada Semangka

Kardi Raharjo PT. Prana Ardita, Temanggung Christanti Sumardiyono Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Nursamsi Poesposendjojo Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Sismindari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada ABSTRACT Phyllosphere is one of habitat of yeast and the other microorganism included an antagonistic microorganism. The antagonistic yeasts have been isolated from watermelon phyllosphere on YM Agar medium.… Lanjutkan membaca Eksplorasi, Pengujian, dan Identifikasi Khamir Antagonis Terhadap Patogen Antraknos (Colletrotichum lagenarium) pada Semangka

Diterbitkan
Dikategorikan dalam Semangka

Cara Mengecambahkan Benih Semangka Tanpa Biji

Oleh : Kardi Raharjo Pendahuluan Keberhasilan pengecambahan benih semangka tanpa biji merupakan tahapan pekerjaan yang sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman semangka. Oleh karenanya perlu dilakukan secara cermat sesuai dengan metode yang sudah teruji. Dalam artikel ini penulis menyusun metode sederhana yang dapat dilakukan oleh para petani, menggunakan bahan dan alat yang mudah diperoleh di lingkungan… Lanjutkan membaca

Cara Mengecambahkan Benih Semangka Tanpa Biji

Diterbitkan
Dikategorikan dalam Semangka